Ada manusia yang telah meninggal ratusan tahun silam, tapi jasanya masih dikenang hingga kini.

Pribadinya menjadi daya tarik tersendiri bagi yang mengingatnya. Namanya tak lapuk dimakan waktu. Apa sebab? Tentu saja karena selama hidup, banyak kebaikan yang ditanamkan. Hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia hidup untuk umat. Waktunya terkuras untuk kebermanfaatan bagi sesama. Contohnya: Syaikhona Kholil, KH Hasyim Asy'ari, Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. 


Dalam buku karangan Prof. Dr. Hamka berjudul 'Pribadi Hebat', dijelaskan bahwa pribadi seseorang diketahui setelah melihat perjalanan hidupnya dan rekam jejak usahanya. Jika orang itu masih hidup, pribadinya tidak bisa dibaca secara menyeluruh. Sebab, kita tidak tahu bagaimana akhir hidup orang itu. Begitulah kira-kira saya mengartikan pernyataan ulama yang akrab dipanggil Buya Hamka itu.


Selanjutnya, ia juga mendefinisikan secara ringkas bahwa pribadi itu memiliki dua arti.  Pertama, pribadi merupakan kumpulan sifat dan kelebihan diri yang menunjukkan kelebihan seseorang daripada yang lain sehingga ada manusia besar dan manusia kecil. Ada manusia yang sangat berarti hidupnya dan ada yang tidak berarti sama sekali. Kedatangannya tidak menggenapkan dan kepergiannya tidak mengganjilkan. Kedua, pribadi merupakan kumpulan sifat akal budi, kemauan, cita-cita, dan bentuk tubuh. Hal itu menunjukkan harga kemanusiaan seseorang berbeda dengan yang lain.


Nilai seseorang tergantung pribadinya. Sejauh mana dia menerapkan akhlak yang baik di tengah masyarakat. Sebab, modal pintar dan cerdas saja tidak cukup untuk menjadi manusia yang yang memiliki daya tarik tinggi. Hanya menjadi orang berilmu saja rasanya kurang lengkap apabila tidak diimbangi dengan budi yang luhur. Bahkan, dalam pergaulan sosial, orang lain cenderung melihat terlebih dahulu sopan santun dan tata krama kita dibandingkan dengan intelektual kita. Sebab, buat apa cerdas tetapi sombong. Ini menandakan bahwa adab harus benar-benar diperhatikan dalam berinteraksi dengan orang lain.


Menjadi manusia yang bermanfaat dan memiliki kepribadian mulia tidak cukup dipelajari di bangku pendidikan formal. Sebab, tantangan sebenarnya adalah setelah lulus dari sekolah/kampus/pesantren. Kita akan terjun ke masyarakat. Dan dalam pergaulan sosial tersebut, baik buruknya pribadi kita, tidak akan lepas dari penilaian orang lain. 


Hal yang perlu diperhatikan adalah kita perlu berpatokan pada prinsip hidup yang diyakini kebenarannya. Bukan pada penilaian masyarakat. Sebab, sebaik apa pun kita, biasanya ada saja yang nyinyir dan memandang buruk perilaku kita. Itu soal biasa, dan tak perlu diambil pusing. Kita harus terus konsisten menebar kebajikan, menjadi pribadi yang bermanfaat. Jadikan penilaian masyarakat sebagai motivasi dan evaluasi untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.


Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya," (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Artinya, untuk menjadi manusia yang terbaik dan mulia di sisi Allah, kita mesti senantiasa berupaya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi manusia. Karena, sejatinya apa yang kita berikan kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada kita. Selain itu, terkait bagaimana menjadi pribadi yang mulia, kita juga perlu memiliki akhlak yang baik. Senada dengan itu, Thabrani dan Ibnu Umar pernah meriwayatkan hadits yaitu, "Sebaik-baik manusia  adalah yang paling baik akhlaknya."


Dari beberapa uraian di atas, kata kunci untuk menjadi pribadi hebat yaitu ada dua: senantiasa menebar kebaikan dan memiliki akhlak mulia. Dua hal itu sudah dipraktikkan oleh beberapa tokoh nasional di masa lalu. Mereka rela berkorban waktu, harta, materi, bahkan jiwa untuk kepentingan masyarakat. Selain itu, dalam bergaul di tengah masyarakat, mereka menerapkan budi yang luhur. Tak heran jika banyak orang mencintainya. Tak heran ketika orang itu meninggal dunia, ribuan manusia menangisi kepergiannya. 


Intinya, untuk menjadi pribadi hebat dan bisa berguna bagi sesama, kita perlu belajar dari tokoh-tokoh tersebut. Terutama mengenai pengabdian dan dedikasinya selama hidup. Selain itu, sebelum belajar dari kisah hidup mereka, kita perlu menerapkan apa yang pernah disampaikan Socrates yaitu, "Kenalilah siapa dirimu, kenalilah pribadimu sendiri."


Terakhir, sebelum menutup catatan ini, saya berharap kita semua menjadi manusia yang keberadaanya membawa kesejukan dan kebaikan, ketika pergi dirindukan, dan kematiannya ditangisi banyak orang. 


***

Muhammad Aufal Fresky, Penikmat sastra

Post A Comment: