Bengkulu : Kamis 17 Agustus 2023 menjadi awal dimulainya produksi film The Rafflesia Story Fatmawati bertajuk Jejak Merah Putih. Perilisan dimulainya produksi film Fatmawati ini dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Bengkulu dengan menghadirkan dari pihak produser film Red Phoenix Picture Chalten F Tatroman, Asosiasi Produser Film Zainal Arifin, Staf Ahli Walikota Bengkulu Bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia I Made Irawan, Coo Produser Indra Mura Prahasta dan Selebgram Roy Kiosaki.


Zainal Arifin mengatakan film bergenre drama epic ini berlatarbelakang kerusuhan tahun 1998 dengan biaya produksi mencapai Rp15 miliar. Film secara penuh mengangkat sisi keteguhan Ibu Fatmawati, mulai dari ia kecil hingga sampai dalam pertemuannya bersama Soekarno. 


"Karena ibu Fatmawati dilahirkan di Bengkulu maka lokasi fokus shooting nantinya 70 persen akan digarap di Bengkulu. Saya berharap nantinya film ini akan membuat pariwisata di Provinsi Bengkulu lebih banyak dikenal yang tentu muaranya akan menambah perputaran ekonomi di Bengkulu," kata Arif.


Arif menambahkan, pembuatan film ini terpacu dari rasa kecintaannya kepada Provinsi Bengkulu. Ketika daerah lain bisa dikenal dengan ragam budayanya, pariwisatanya, maka Bengkulu harus dikenal sebagai rekam sejarah berdirinya bangsa ini.


"Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 78 ini menjadi momen yang tepat. Kami targetkan, seluruh rangkaian pembuatan film tuntas akhir 2023 ini, dan berproduksi hingga beberapa bulan kedepan. Selanjutnya, film bisa dapat diputar di bioskop layar lebar di seluruh Indonesia pada 17 Agustus 2024 mendatang," harap Arif.


Disampaikan Chalten tahap awal berupa pembuatan teaser dan desain produksi film ini telah dilalui timnya. Selanjutnya, proses akan dilanjutkan ke riset dan izin pihak keluarga serta pengumpulan narasumber sehingga membuat film ini sesuai dengan cerita aslinya. 


"Pastinya kita perlu riset dulu, karena berhubungan dengan cerita sejarah hidup Ibu Fatmawati. Kita tidak boleh miss tuh, jadi setelah riset, sudah pasti kita mendapatkan izin dari pihak keluarga khususnya beberapa narasumber yang memang berdekatan dengan Ibu Fatmawati langsung supaya ceritanya tidak belok," kata dia.


Pada tahap pemilihan tokoh-tokoh pemeran utama dalam film ini, nantinya pihak produser akan melakukan coaching clinic, agar para pemeran benar-benar menjiwai karakter Fatmawati, Hasan Din, Soekarno dan beberapa tokoh lainnya.


"Saat ini gambaran awalnya, pemeran tokoh Fatmawati itu Prilly Latuconsina. Tapi akan kita lakukan coaching clinic, siapa tau ada putri Bengkulu yang benar-benar bisa menjiwai karakter Fatmawati," ungkapnya.


Judul Jejak Merah Putih turut memperkuat fokus produser pada pemasaran film ini. Chalten tidak ingin film ini hanya menjadi konsumsi masyarakat Bengkulu namun seluruh warga Indonesia. Karena itu film awal yang berjudul The Rafflesia Story diubah menjadi Jejak Merah Putih. 


"Ini supaya film layar lebar yang akan kita garap, pasarnya bukan hanya diputar di Bengkulu, tapi jadi konsumsi masyarakat Indonesia," tegasnya. 


Film ini disambut baik pihak pemerintah daerah salah satunya pemerintah Kota Bengkulu. Made mengatakan hadirnya film ini nantinya akan memperkuat persepsi Kota Bengkulu sebagai Kota Merah Putih.


Ia pun mengajak semua pihak mendukung proses pembuatan film ini dengan memberikan akses maupun dukungan moral demi lancarnya proses produksi. Dengan hadirnya film sejarah ini, pemerintah berharap dapat memacu masyarakat kedalam jiwa Pancasila patriotisme, nasionalisme dan kecintaan pada tanah air.


Dalam penggalannya, lanjut Chalten, film ini akan menceritakan garis besar kehidupan Fatmawati. Alur flashback melalui seorang tokoh jurnalis yang terjebak dalam peliputannya di Pantai Kiluan. Akibat gejolak 98, sang jurnalis tidak bisa langsung kembali ke Jakarta karena menghindari kerusuhan yang terjadi hingga harus mendarat di Bengkulu. 


Di Bengkulu, Ia justru harus bertemu dengan seorang Gadis Bengkulu. Dalam kisah singkatnya, ia menaruh hati dan menjalin kasih dengan gadis tersebut. Seiring cerita, Ia berkeliling ke penjuru Bengkulu dan mendapati rumah mungil kediaman keluarga Fatmawati. Magnet patriotisme putri Bengkulu itu membawa jurnalis tersebut terbawa jauh ke awal kehidupan putri Hasan Din. 


Cerita bergolak ke masa di mana Fatmawati mengenyam pendidikan, berkenalan dengan sosok Soekarno, cerita haru Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih di Pegangsaan Timur sampai sang saka Merah Putih dikibarkan.

Post A Comment: