Opini — Rasanya tidak sulit untuk membayangkan bagaimana perasaan para orangtua murid ketika melihat vidio viral Ganjar yang marah saat menemukan pungli di salah satu sekolah di Rembang. Mungkin mereka ikut geram, karena uang yang harus mereka keluarkan dengan dalih iuran pembangunan selama ini, ternyata pungutan belaka. Tapi tentu mereka juga senang, karena pungutan-pungutan liar di ranah pendidikan tidak akan terulang lagi setelah kejadian ini. 

Tidak semua orangtua berkecukupan secara finansial. Mungkin ada yang penghasilannya sehari kurang dari seratus ribu. Namun dengan bayangan masa depan anak yang lebih baik, mereka pun rajin kumpulkan uang untuk jalan pendidikan buah hatinya itu. Bahkan sangat mungkin ada kalanya mereka harus hutang pada saudara maupun tetangga. Tapi kemudian uang hasil keringat mereka dibawa lari oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Aku pun bisa memahami kemarahan Ganjar. Apalagi kita tahu selama ini Ganjar benar-benar fokus membangun dunia pendidikan. Dalam kepemimpinannya di Jateng, telah banyak transformasi terjadi di ruang pendidikan. Dari mulai menciptakan sekolah gratis untuk keluarga kurang mampu, menggratiskan biaya SPP, hingga menaikkan gaji guru honorer setara UMK di daerah masing-masing. 

Jika Nelson Mandela mengatakan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, artinya hari ini Ganjar sedang merakit senjata-senjata itu untuk membawa negeri ini melompat jauh lebih baik. 

Segala komponen telah Ganjar siapkan untuk menciptakan senjata yang hebat dan ampuh itu. Aksesnya dipermudah dan diperluas, kualitas para pengjar ditingkatkan, pihak-pihak dan para pakar juga digandengnya, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah untuk mendukung kreasi dan inovasi yang diciptakan pelajar, dengan begitu mereka lebih percaya diri dalam menunjukkan kemampuannya. 

Hanya dengan pendidikan lah, semua anak punya peluang yang sama untuk menjemput hari depan yang lebih cerah. Tapi apa yang sudah ditata Ganjar sedemikian baik ini justru dikotori dengan adanya pungutan-pungutan liar. Siapa yang tidak marah coba? Aku yakin anda pun bakal marah jika berada dalam posisi Ganjar.

Kemarahan Ganjar kali ini mungkin sama seperti ketika dia menjumpai buruknya kualitas material pembangunan gedung sekolah baru di Tawangmangu. Bayangkan saja warga Tawangmangu Kabupaten Karanganyar telah cukup lama menanti adanya sekolah SMA negeri. Lalu ketika Ganjar merealisasikannya, pembangunan gedung malah asal-asalan. 

Ganjar pun ngamuk dan langsung menelpon pihak rekanan untuk segera mengganti spek material yang lebih baik. 

Dari dua peristiwa itu sebetulnya sudah menjelaskan bagaimana ketegasan Ganjar dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas di negeri ini. Tentu saja sikap dan ketegasan Ganjar ini tak membuat semua orang senang, terutama mereka yang ingin meraup pundi-pundi dengan cara kotor. Tapi bagi rakyat atau siapapun yang mengidamkan pendidikan Indonesia melomat jauh lebih baik, Ganjar menjadi sosok pemimpin yang sangat dicintai.

***

Penulis : Angwar Sanusi

Post A Comment: