Nusapedia - Sebagai sebuah negara kesatuan yang majemuk Indonesia terdiri atas berbagai ragam suku, bangsa, adat istiadat ,agama dan kebudayan. Kita menempatkan pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dan dasar negara.

Namun sunguh disayangkan di dalam negara yang plural kerap kali muncul kelompok-kelompok intoleran yang merasa paling benar dan apabila kelompoknya diangap salah langsung memberi label kafir, musrik dan lain-lain sebagainya, dan paling sempurna serta membuat sekat-sekat dengan kelompok lain. Implikasi nya adalah muncul gesekan antara sesama, mahasiswa berbasis kelompok etnis ras dan keagamaan.

Kelompok radikal dan intoleran didalam kampus biasanya memiliki ciri dan karakteristk tertentu, tidak mau beribadah dengan kawan lainya, mengkafitkan orang yang tidak sepaham, membatasi pergaulan secara sepihak bahkan samape meningalkan kuliah. Kampus-kampus negeri menjadi tempat terbaik menyebarkan ajaran-ajaran radikalisme karna kelompok radikal tidak bisa bergerak bebas di sekolah-sekolah muhamadiyah atau nahdatul ulama karna mereka secara tegas menolak radikalisme dan pemahaman intoleran.

Berdasarkan data dari setara intstitut pada tahun 2019 yang lalu, ada 10 kampus terpapar radikalisme bahkan terjadi dikampus-kampus besar seperti univeritas Indonesia (UI), univeritas Gadjah mada (UGM), univeritas airlanga (UNAIR), institute teknologi bandung (ITB) dan kampus besar lainya.

 Menjadi Bahaya kemudian kalau sampai paham-paham intoleransi tumbuh dan berkembang dikampus, membuat sekat-sekat antar kelompok, mempoltisasi keyakinan, menjual dogma dogma ketuhanan demi Kepentingan, tidak jarang juga menjegal lawan politik dengan agama dan keyakinan (kecurangan ), terkadang kelompok intoleran ini menutup diri terhadap perkembangan zaman padahal mereka juga menikmati nya. Lebih bahaya lagi ketika ornganisasi kemahaisswan dipimpin oleh kelompok-kelompok intoleran.

penanaman ideolgi pencasila menjadi sangat penting bagi mahasisiwa terkhusus nya mahasiswa baru yang rentan terapapar radikalisme dengan slogan-slogan propaganda yang dapat memecah belah budaya masyarakat kita yang plural. Jumlah kelompok-kelompok radikal ini mungkin tidak sebandanging dengan kelompok masyarakat kita yang plural dan mengehargai perbedaan tetapi kita juga harus waspada guna mencegah teman dan sodar akita terpapar radikalisme.
***
Lanai Damkuba, Presma UNIB 

Post A Comment: