Sulawesi Selatan - Nama Karst Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga para traveler, khususnya para caver. Kawasan ini diselimuti oleh perbukitan kapur yang menjulang tinggi serta tebing yang cukup menantang adrenalin.


Tak seperti kawasan karst lain yang umumnya bukitnya berbentuk kerucut (concicall Hill), perbukitan di Karst Maros – Pangkep justru berbentuk menara. Sehingga, kawasan Geopark Maros Pangkep dikenal juga dengan istilah tower karst.


Memiliki luas 43.750 hektar, Geopark Maros Pangkep ternyata menyandang gelar sebagai ‘hutan batu’ karst terluas kedua di dunia setelah China, loh!


Secara rinci, 20.000 hektare Karst Maros – Pangkep merupakan area pertambangan. Sementara, 23.750 hektar lainnya merupakan area konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.


Tidak hanya menawarkan keindahan alam, Geopark Maros Pangkep juga menawarkan sejumlah nilai ilmiah dan budaya untuk dijelajahi. Diketahui, kawasan karst ini memiliki sekitar 268 gua berstalaktit dan stalakmit, 89 di antaranya adalah gua prasejarah. Beragam jenis flora dan fauna endemik juga banyak ditemukan di kawasan ini.


Potensi Geopark Maros Pangkep


Meskipun telah banyak dilakukan penelitian di geopark ini, akan tetapi belum semua potensi terungkap. Lantas, apa saja sih potensi yang ada di sini? Yuk simak!


Potensi Speleologi


Leang Putte mendapat predikat sebagai gua vertikal dengan single pitch terdalam di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Kedalaman gua in mencapai 270 meter dengan mulut gua sekitar 50 – 80 meter.  


Speleologi merupakan studi ilmiah mengenai gua dan karakteristiknya, termasuk proses pembuatannya (speleogenesis). Sebagai daerah karst dengan permukaan batu gamping, air hujan akan langsung terserap kedalam rongga-rongga dan mengalir di bawah permukaan tanah. Aliran sungai bawah tanah inilah yang berperan sebagai pelarut pembentuk gua-gua.


Taman Bumi Maros – Pangkep memiliki gua terdalam dengan kedalaman 270 meter berbentuk sumur tunggal di Leang Leaputte. Sementara gua terpanjang di kawasan tersebut, yakni Salukkan Kallang, mencapai 2.700 meter.


Kemudian, pada tahun 2001 tim ekspedisi Prancis berhasil menemukan gua sepanjang 12 kilometer di daerah Balocci. Temuan ini menambah daftar kekayaan gua di Maros.


Potensi Geologi


Ternyata bentang alam Karst Maros – Pangkep telah ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi dalam Permen ESDM No. 17/2012.


Tercatat ada 3 (tiga) komponen geologi lingkungan pada Karst Maros – Pangkep. yaitu komponen eksokars, terdiri atas bukit karts, telaga, dolina, uvala, dan polye.


Kemudian ada komponen endokars, yang terdiri atas mata air permanen dan musiman serta gua aktif (basah) dan tidak aktif (kering). Dan yang terakhir adalah komponen potensi air tanah.


Potensi Arkeologi


Pada tahun 2002 Tim Balai Arkeologi Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya berhasil menemukan teknologi pertama manusia prasejarah, yakni maros point. Benda tersebut berbentuk lancip dengan sisi bergerigi. 


Seperti diketahui Taman Bumi Maros – Pangkep memiliki ratusan gua tersembunyi. Beberapa di antaranya merupakan gua yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia prasejarah.


Lukisan pada dinding gua, sampah dapur, dan cangkang Mollusca dapat ditemukan di setiap gua-gua di kawasan tersebut.


Selain itu, temuan artefak di beberapa gua juga semakin menambah kekayaan arkeologi Maros. Adapun temuan artefak yang paling menarik yakni berupa mata anak panah.


Potensi Keanekaragaman Hayati


Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) termasuk satwa langka yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No. 5/1990. Populasi monyet ini diperkirakan kurang dari 100.000 ekor. 


Karst Maros – Pangkep menjadi rumah bagi fauna langka, seperti monyet hitam serta 125 jenis kupu-kupu.


Pada rentang 2001 – 2003, LIPI bersama tim peneliti asal Prancis berhasil menambah jenis fauna baru di Maros, di antaranya kepiting gua, kalajengking gua, kumbang gua dan isopoda aquatic.


Selain itu, beragam jenis flora juga bersemayam di kawasan karst ini. Di antaranya bintangur, beringin, enau, nato, hingga kayu hitam Sulawesi.


Penulis: Anastasia Jessica, Universitas Udayana, Program Magang Genpinas 2022

Post A Comment: