Jakarta - PT Adaro Energy Indonesia Tbk (BEI: ADRO) hari ini menyampaikan laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2022 (1H22). Sesuai praktik yang dilakukan perusahaan setiap tahunnya, KAP Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan (firma anggota jaringan global PriceWaterhouse Cooper) melaksanakan tinjauan terbatas terhadap laporan keuangan 1H22. Umumnya, perusahaan mencapai kinerja yang baik dengan profitabilitas yang ditopang oleh harga batu bara yang melebihi ekspektasi, sehingga EBITDA operasional naik 269% y-o-y menjadi $2.339 juta dari $635 juta. Perusahaan meningkatkan marjin EBITDA operasional sebesar 2545bps y-o-y menjadi 66,1% dari 40,6%, karena harga jual rata-rata (ASP) naik 117% dan volume penjualan naik 7%.


Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy Indonesia Bpk. Garibaldi Thohir mengatakan: “Semester pertama 2022 adalah semester yang sangat kondusif untuk harga, sehingga mendorong pendapatan menyentuh rekor-rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan. Hal ini dipicu oleh gabungan berbagai faktor yang terjadi dalam kurun waktu yang singkat, mulai dari cuaca tak menentu yang mengakibatkan kenaikan permintaan bagi produk-produk kami, sampai kelangkaan pasokan yang belum juga teratasi akibat masalah pengadaan alat berat dan cuaca buruk di wilayah-wilayah tambang secara global. Lebih lanjut, dampak terbesar disebabkan risiko geopolitis dari Eropa. Pendapatan, EBITDA dan laba bersih kami mencapai rekor tertinggi kinerja semester pertama sejak perusahaan pertama kali melantai di bursa 14 tahun lalu. EBITDA operasional yang melebihi AS$2, miliar, dan laba inti yang mencapai AS$1,4 miliar setara dengan peningkatan masing-masing 269% dan 338% y-o-y, yang mencerminkan kualitas laba perusahaan. Laba yang sangat tinggi akan membantu kami untuk memberikan dukungan finansial terhadap transformasi Grup Adaro di tahun-tahun mendatang karena kami melakukan investasi besar pada energi terbarukan, pengembangan kawasan industri hijau terbesar dunia, dan mendiversifikasi semakin jauh dari batu bara termal.”


Analisis Kinerja Keuangan Enam Bulan Pertama


Pendapatan Usaha, Harga Jual Rata-Rata dan Produksi


Pendapatan usaha Adaro Energy Indonesia (ADRO) yang dilaporkan untuk periode 1H22 naik 127% y-o-y menjadi $3.541 juta dari $1.563 juta, terutama akibat kenaikan 117% y-o-y pada ASP. Cuaca buruk, kelangkaan pasokan dan peristiwa-peristiwa geopolitis mendorong harga ke level yang tinggi dalam sejarahnya, sehingga menunjang kenaikan ASP perusahaan. Walaupun menghadapi curah hujan yang tinggi dan masalah pengadaan alat berat, ADRO berhasil meningkatkan produksi sebesar 6% y-o-y menjadi 28,0 juta ton dari 26,5 juta ton pada 1H22.


Peningkatan produksi membantu kenaikan penjualan batu bara sebesar 7% menjadi 27,5 juta ton 1H22 dari 25,8 juta ton di periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, ADRO mencatat penurunan pengupasan lapisan penutup sebesar 11% menjadi 102,05 Mbcm pada 1H22 dari 115,2 Mbcm dan nisbah kupas turun 16% y-o-y menjadi 3,64x dari 4,35x. Jika cuaca memungkinkan, perusahaan memperkirakan nisbah kupas akan meningkat pada 2H22, namun tidak mudah untuk memenuhi panduan nisbah kupas 4,1x pada 2022.


Beban Pokok Pendapatan


Beban pokok pendapatan naik 42% y-o-y menjadi $1.516 juta terutama karena kenaikan pembayaran royalti seiring kenaikan ASP dan kenaikan biaya penambangan karena kenaikan harga bahan bakar minyak global. Nisbah kupas pada 1H22 tercatat sebesar 3,64x, setara dengan penurunan 71bp, karena pengupasan lapisan penutup sebesar 102,1 mBcm lebih rendah 11% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Nisbah kupas yang lebih rendah tersebut di bawah panduan perusahaan, namun hal ini diperkirakan akan dapat dikejar pada tahun-tahun berikutnya karena perusahaan mengikuti rencana penambangan maupun sekuens penambangan. Secara umum, biaya kas (tidak termasuk royalti) naik 7% y-o-y.


Beban Usaha


Beban usaha pada 1H22 naik 66% y-o-y menjadi $143 juta, karena perusahaan mencatat kenaikan 215% pada beban komisi penjualan. Kenaikan pada beban komisi penjualan berkontribusi terhadap 50% kenaikan beban usaha y-o-y dan disebabkan oleh kenaikan harga batu bara pada periode ini.


Royalti yang Dibayarkan kepada Pemerintah dan Beban Pajak Penghasilan


Royalti yang dibayarkan kepada Pemerintah Indonesia bersama dengan beban pajak penghasilan pada periode ini naik 315% menjadi $1.207 juta dari $291 juta disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari batu bara berkat kenaikan ASP. Sebagai catatan mengenai royalti, PKP2B Adaro Indonesia akan jatuh tempo dan bertransisi menjadi IUPK saat memasuki FY23.


Menurut ketentuan IUPK, royalti yang dibayarkan Adaro Indonesia (tambang Adaro Indonesia meliputi 82% produksi ADRO pada 1H22) akan meningkat secara progresif sampai sekitar 28% dari tarif royalti 13,5% yang berlaku saat ini dan tarif pajak akan turun menjadi 22% dari 45%, selain dari perubahan yang akan terjadi pada bagi hasil, yurisdiksi hukum dan luas konsesi.


EBITDA Operasional


EBITDA operasional ADRO tumbuh 269% y-o-y menjadi $2,3 miliar dari AS$635 juta pada 1H22, yang menunjukkan bahwa perusahaan telah melampaui panduan EBITDA operasional FY22 yang berkisar AS$1,9 – $2,2 miliar untuk 2022. Pencapaian EBITDA operasional yang tinggi ini mencerminkan pola cuaca yang berubah-ubah, permintaan dari dibukanya kembali ekonomi global pasca pandemi, dan dinamika geopolitis yang mendorong harga.


Marjin EBITDA operasional terus mencatat rekor-rekor tertinggi dalam sejarah dan melampaui 66% pada 1H22, atau naik lebih dari 2500bps y-o-y karena permintaan tetap tinggi dan leverage operasi tetap positif.


Dalam menghitung EBITDA operasional, ADRO melakukan penyesuaian untuk komponen-komponen non operasional yang hanya terjadi satu kali seperti provisi biaya dekomisioning, cadangan, derivatif dan penurunan nilai. Pada 1H22, perusahaan tidak memiliki penyesuaian signifikan yang mempengaruhi EBITDA.


Laba Inti


Laba inti ADRO pada 1H22 naik 338% menjadi $1.447 juta dari $330 juta pada periode yang sama tahun lalu, sebagai akibat kondisi harga saat ini dan keunggulan operasional yang berkesinambungan. Sebagaimana yang tercantum pada laporan, laba bersih periode ini mencapai $1.345 juta, atau naik 611% y-o-y.


Total Aset


Total aset naik 30% menjadi $8.789 juta dari $6.739 juta pada tahun sebelumnya berkat kenaikan 86% pada kas menjadi $2.244 miliar. Aset lancar naik 81% menjadi $3.600 juta dari $1.989 juta y-o-y, sementara aset non lancar naik 9% menjadi $5.188 dari $4.750 juta y-o-y. Kontribusi paling signifikan terhadap kenaikan pada aset non lancar berasal dari investasi lainnya dan tambahan investasi yang dilakukan pada TPI di 1H22.


Aset Tetap


Aset tetap pada 1H22 turun 6% y-o-y menjadi $1.365 juta dari $1.447 juta, dan meliputi 16% dari total aset karena akumulasi depresiasi naik menjadi $2.679 juta dari $2.407 juta.


Properti Pertambangan


Pada akhir 1H22, properti pertambangan turun 14% y-o-y menjadi $1.117 dari $1.296 juta, dan meliputi 13% dari total aset.


Total Liabilitas


Total liabilitas naik 22% menjadi $3.282 dari $2.692 juta akibat peningkatan signifikan pada utang pajak karena tingginya harga batu bara. Pada 1H22, utang pajak naik 416% menjadi $723 juta dari $140 juta y-o-y. Hal ini menyebabkan liabilitas lancar naik 95% menjadi $1.579 dari $811 juta y-o-y. Liabilitas non lancar turun 10% menjadi $1.703 juta dari $1.882 pada periode yang sama tahun lalu karena sebagian pinjaman bank ADRO berubah dari liabilitas non lancar menjadi liabilitas lancar.


Utang


Bagian lancar dari utang jangka panjang pada 1H22 naik 66% y-o-y menjadi $352 juta karena pinjaman bergulir milik SIS berubah menjadi utang lancar. Bagian non lancar dari utang jangka panjang turun 14% y-o-y menjadi $1.277 dari $1.476 dipicu oleh penurunan 25% pada pinjaman bank jangka panjang menjadi $513 juta karena perusahaan membayar pinjaman bank jangka panjang sehingga berkurang secara y-o-y, dan perubahan pinjaman bergulir milik SIS menjadi utang lancar. Pada 1H22, perusahaan tidak menambahkan pinjaman bank yang baru.


Manajemen Utang dan Likuiditas


Saldo kas ADRO pada akhir 1H22 naik 86% menjadi $2.244 juta dari $1.208 juta y-o-y. ADRO juga memiliki akses ke $156 juta dalam bagian lancar pada investasi lainnya, dan $212 juta dalam bentuk komitmen fasilitas yang belum dipakai dari berbagai pinjaman yang ada pada 1H22, sehingga total likuiditas naik menjadi $2.612 juta pada akhir kuartal ini. Utang berbunga turun 4% menjadi $1.629 juta dari $1.690 juta y-o-y. Perusahaan terus memperkuat posisi keuangan dan mengelola utang dengan hati-hati. Saat ini, ADRO berada pada posisi kas bersih sebesar $770 juta.


Ekuitas


Pada akhir 1H22, modal pemegang saham bersaldo $5.507 juta, atau naik 36% y-o-y dari $4.046 juta.


Arus Kas dari Aktivitas Operasi


Selama 1H22, arus kas ADRO dari aktivitas operasi naik 238% menjadi $1.357 dari $401 juta y- o-y karena penerimaan dari pelanggan naik 122% menjadi $3.117 dari $1.405. Kenaikan pada penerimaan kas cukup signifikan untuk melampaui kenaikan pembayaran royalti dan pajak yang secara gabungan naik 199% menjadi $875 juta pada periode ini.


Arus Kas dari Aktivitas Investasi


Perusahaan mencatat arus kas keluar bersih sebesar $179 juta yang digunakan pada aktivitas investasi, sebagai akibat pembelian investasi lainnya serta aset tetap.


Belanja Modal dan Arus Kas Bebas


Belanja modal bersih pada 1H22 naik 111% menjadi $157 juta dari $74 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pengeluaran belanja modal pada periode ini terutama digunakan untuk pembelian dan penggantian alat berat dan biaya pemeliharaan kapal. Arus kas bebas naik 221% menjadi $1.040 juta dari $324 juta y-o-y karena kenaikan EBITDA operasional.


Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan


Arus kas keluar bersih dari aktivitas pembiayaan pada 1H22 tercatat $733 juta. ADRO menarik $107 juta pinjaman bank dan melakukan pembayaran terhadap pinjaman bank sejumlah $55 juta. Selain itu, perusahaan membagikan $650 juta dalam bentuk dividen tunai kepada para pemegang saham dan mengeluarkan $43 juta untuk pembelian saham kembali. Per 1H22, ADRO telah membeli kembali 1.000.000.000 saham dan mengeluarkan $140 juta untuk pembelian saham kembali yang diperpanjang sampai 9M22.


Berita Regulasi Industri Terbaru


Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2022 Peraturan ini menentukan jenis dan tarif penerimaan negara bukan pajak dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Di sektor batu bara, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) adalah yang paling terdampak karena perubahan tarif royalti untuk IUP yang ditetapkan oleh peraturan ini.


ADRO memiliki beberapa konsesi dengan skema IUP, termasuk Balangan Coal Companies yang memproduksi sekitar 5 juta ton per tahun dan Mustika Indah Permai (MIP), aset ADRO di Sumatera Selatan dengan produksi sekitar 2 juta ton per tahun. Konsesi-konsesi ini memiliki CV menengah, antara 4.200 kkal/kg – 5.200 kkal/kg, sehingga pembayaran royaltinya akan naik dari tarif 3% – 5% menjadi 7% – 10.5%, tergantung HBA. Pada harga sekarang, konsesi-konsesi ini diperkirakan akan membayar royalti 10,5%.

Post A Comment: